Silahkan di download kumpulan mp3 berikut:
- Juara I festifal adzan anak-anak 2013
Download
- Juara II festifal adzan anak-anak 2013
Download
- Juara III festifal adzan anak-anak 2013
- Harapan I festifal adzan anak-anak 2013
- Harapan II festifal adzan anak-anak 2013
Download
- Harapan III festifal adzan anak-anak 2013
Download
Minggu, September 29, 2013
Gara-gara Roti, Seorang Raja Menjadi Sufi
Kisah pertobatan Raja Balkh (Iran) Abu Ishaq
Ibrahim bin Adham berawal dari keinginannya untuk berburu. Bersama kuda
kesayangannya, Ibrahim menuju hutan dengan penuh gairah. Keadaan
berlangsung normal hingga ketenangannya diusik oleh seekor gagak.
Ibrahim sesungguhnya hanya ingin istirahat sejenak. Melepas lelah perjalanan sembari memakan roti. Sialnya, Ibrahim tak sempat mencicipi sedikit pun bekal bawaannya itu. Seekor gagak datang tiba-tiba menyambar roti, lalu membawanya terbang ke udara.
Ibrahim yang kaget bercampur kagum itu memutuskan untuk mengikuti ke mana gagak pergi. Si burung hitam meluncur cepat ke arah gunung, hingga Raja Balkh nyaris saja tak menemukannya lagi. Tapi tekad Ibrahim bin Adham untuk menaklukkan segala rintangan gunung membuatnya tak kehilangan jejak.
Tapi gagak tetaplah gagak. Jerih payah sang raja untuk mendekatinya mendapat penolakan. Sekali lagi, gagak mengudara, kabur menghilang entah ke mana. Di saat bersamaan, Ibrahim bin Adham menjumpai seseorang tengah terbaring di tanah dalam keadaan terikat. Segera ia turun dari kuda dan berusaha melepaskannya.
“Ada apa dengan Anda?” tanya Ibrahim bin Adham.
“Saya korban perampokan,” jawab orang tersebut yang ternyata adalah seorang saudagar. Setelah seluruh hartanya dirampas, para perampok hendak membunuhnya dengan cara mengikat dan melantarkan tubuhnya sendirian. Saudagar mengaku, sudah tujuh hari ia terlentang tak berdaya di tempat itu.
“Bagaimana Anda bisa bertahan hidup?”
Saudagar tersebut lantas menceritakan bahwa selama masa-masa sulit itu, seeokor gagak rutin menghampiri, hinggap di atas dada, dan menyodorkan makanan untuknya, termasuk roti. Begitulah cara ia mendapatkan tenaga setiap hari.
Peristiwa ini membuka kesadaran Ibrahim bin Adham tentang hakikat rezeki. Ia akhirnya mantab mundur dari jabatan raja, memerdekakan semua budak miliknya, dan mewakafkan segala kekayaannya. Hikayat ini dapat dijumpai secara jelas dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah.
Ibrahim bin Adham memilih menjalani hidup sederhana sebagai rakyat biasa. Jalan tasawuf mulai ia tekuni dengan berjalan kaki ke Mekah, tanpa bekal apapun kecuali rasa tawakal yang amat tinggi. Sejak saat itu, olah rohani merupakan kegiatan pokok selama hidupnya.
Ternyata, kisah tentang kegagalan Ibrahim bin Adham mencicipi roti ini berbuntut pada perubahan serius keseluruhan hidup mantan raja Balkh itu. Ibrahim bin Adham akhirnya masyhur sebagai tokoh sufi yang sangat dikagumi. Dalam sumber-sumber Arab dan Persia, seperti Imam Bukhari dan lainnya, ia terkenal sebagai tokoh sufi yang pernah bertemu dengan Nabi Khidzir. (Mahbib Khoiron)
Ibrahim sesungguhnya hanya ingin istirahat sejenak. Melepas lelah perjalanan sembari memakan roti. Sialnya, Ibrahim tak sempat mencicipi sedikit pun bekal bawaannya itu. Seekor gagak datang tiba-tiba menyambar roti, lalu membawanya terbang ke udara.
Ibrahim yang kaget bercampur kagum itu memutuskan untuk mengikuti ke mana gagak pergi. Si burung hitam meluncur cepat ke arah gunung, hingga Raja Balkh nyaris saja tak menemukannya lagi. Tapi tekad Ibrahim bin Adham untuk menaklukkan segala rintangan gunung membuatnya tak kehilangan jejak.
Tapi gagak tetaplah gagak. Jerih payah sang raja untuk mendekatinya mendapat penolakan. Sekali lagi, gagak mengudara, kabur menghilang entah ke mana. Di saat bersamaan, Ibrahim bin Adham menjumpai seseorang tengah terbaring di tanah dalam keadaan terikat. Segera ia turun dari kuda dan berusaha melepaskannya.
“Ada apa dengan Anda?” tanya Ibrahim bin Adham.
“Saya korban perampokan,” jawab orang tersebut yang ternyata adalah seorang saudagar. Setelah seluruh hartanya dirampas, para perampok hendak membunuhnya dengan cara mengikat dan melantarkan tubuhnya sendirian. Saudagar mengaku, sudah tujuh hari ia terlentang tak berdaya di tempat itu.
“Bagaimana Anda bisa bertahan hidup?”
Saudagar tersebut lantas menceritakan bahwa selama masa-masa sulit itu, seeokor gagak rutin menghampiri, hinggap di atas dada, dan menyodorkan makanan untuknya, termasuk roti. Begitulah cara ia mendapatkan tenaga setiap hari.
Peristiwa ini membuka kesadaran Ibrahim bin Adham tentang hakikat rezeki. Ia akhirnya mantab mundur dari jabatan raja, memerdekakan semua budak miliknya, dan mewakafkan segala kekayaannya. Hikayat ini dapat dijumpai secara jelas dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah.
Ibrahim bin Adham memilih menjalani hidup sederhana sebagai rakyat biasa. Jalan tasawuf mulai ia tekuni dengan berjalan kaki ke Mekah, tanpa bekal apapun kecuali rasa tawakal yang amat tinggi. Sejak saat itu, olah rohani merupakan kegiatan pokok selama hidupnya.
Ternyata, kisah tentang kegagalan Ibrahim bin Adham mencicipi roti ini berbuntut pada perubahan serius keseluruhan hidup mantan raja Balkh itu. Ibrahim bin Adham akhirnya masyhur sebagai tokoh sufi yang sangat dikagumi. Dalam sumber-sumber Arab dan Persia, seperti Imam Bukhari dan lainnya, ia terkenal sebagai tokoh sufi yang pernah bertemu dengan Nabi Khidzir. (Mahbib Khoiron)
Sabtu, September 28, 2013
Mendahulukan Ada' atau Qadha'
Mendahulukan shalat wajib atau qadha’Shalat
adalah ibadah yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan
salam. Untuk shalat wajib, syara’ membaginya menjadi lima waktu; Dhuhur,
Ashar, Mahgrib, Isya’ dan Subuh. Sedangkan untuk shalat sunnah syara’
memberi banyak pilihan bagi seorang muslim yang ingin mendapatkan pahala
tambahan, seperti shalat Tahajjud, Dhuha, Witir, Qabliyah dan Ba’diyah
serta masih banyak lagi shalat-shalat sunnah yang lain.
Terkhusus untuk shalat wajib, setiap muslim yang telah baligh wajib hukumnya menjalankan shalat lima waktu dalam sehari semalam sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh syara’. Jika seseorang menjalankan shalat pada waktunya itu dinamakan ada’(tepat waktu), dan jika seseorang menjalankan shalat diluar waktunya itu dinamakan qadha’(diluar waktu shalat) seperti seseorang yang lupa melaksanakan shalat maghrib karena kesibukan atau hal lain yang membuatnya lupa, maka setelah ingat ia wajib mengqadha’nya, contoh lain seperti seseorang yang terlelap tidur malam lalu terbangun ketika matahari telah bersinar, maka saat itu juga ia wajib mengqada’nya. Sebagaimana hadits Rasulullah,
Lalu bagaimana jika seseorang lupa bahwa ia belum menjalankan shalat dhuhur, dan baru teringat ketika telah masuk waktu shalat ashar? Maka ia wajib mengqadha’ shalat dhuhur tersebut diwaktu ashar. Sedangkan ia juga berkewajiban menjalankan shalat ashar pada waktunya(ada’), manakah yang harus didahulukan, Shalat qadha’ ataukah shalat ada’? seseorang boleh memilih antara mendahulukan shalat ashar atau shalat qadha’ dhuhur, dengan catatan jika ia menjalankan shalat qadha’ dhuhur terlebih dahulu, waktu shalat ashar tidak dikhawatirkan terlewati, tetapi jika dikhawatirkan habisnya waktu ashar, maka shalat ashar wajib didahulukan, seperti yang terdapat dalam kitab Tuhfatu al-Thullab karangan Imam Zakariya Al-Anshari,
Hal ini memberi penjelasan tentang wajibnya mengadha’ shalat fardlu bagi orang yang lupa atau sedang tertidur ketika telah ingat karena keduanya tidak terkena taklif(kewajiban) dari syara’, akan tetapi seseorang boleh memilih diantara mendahulukan shalat qadha’ atau shalat ada’ terlebih dahulu, jika memang tidak dikhawatirkan terlewatnya waktu shalat ada’ maka shalat qadha’ boleh didahulukan, akan tetapi jika terdapat kekhawatiran terlewatnya waktu shalat ada’ maka shalat qadha’ harus diakhirkan dan mendhulukan shalat ada’.
Terkhusus untuk shalat wajib, setiap muslim yang telah baligh wajib hukumnya menjalankan shalat lima waktu dalam sehari semalam sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh syara’. Jika seseorang menjalankan shalat pada waktunya itu dinamakan ada’(tepat waktu), dan jika seseorang menjalankan shalat diluar waktunya itu dinamakan qadha’(diluar waktu shalat) seperti seseorang yang lupa melaksanakan shalat maghrib karena kesibukan atau hal lain yang membuatnya lupa, maka setelah ingat ia wajib mengqadha’nya, contoh lain seperti seseorang yang terlelap tidur malam lalu terbangun ketika matahari telah bersinar, maka saat itu juga ia wajib mengqada’nya. Sebagaimana hadits Rasulullah,
إذا نام أحدكم عن الصلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها
Jika seseorang tertidur sampai tidak melaksanakan shalat atau juga lupa, maka ketika ia ingat wajib melaksanakan saat itu juga.Lalu bagaimana jika seseorang lupa bahwa ia belum menjalankan shalat dhuhur, dan baru teringat ketika telah masuk waktu shalat ashar? Maka ia wajib mengqadha’ shalat dhuhur tersebut diwaktu ashar. Sedangkan ia juga berkewajiban menjalankan shalat ashar pada waktunya(ada’), manakah yang harus didahulukan, Shalat qadha’ ataukah shalat ada’? seseorang boleh memilih antara mendahulukan shalat ashar atau shalat qadha’ dhuhur, dengan catatan jika ia menjalankan shalat qadha’ dhuhur terlebih dahulu, waktu shalat ashar tidak dikhawatirkan terlewati, tetapi jika dikhawatirkan habisnya waktu ashar, maka shalat ashar wajib didahulukan, seperti yang terdapat dalam kitab Tuhfatu al-Thullab karangan Imam Zakariya Al-Anshari,
يقضي الشخص ما فاته من مؤقت وجوبا في الفرض متى تذكره وقدر على فعله إلا إن خاف فوت حاضرة فيبدأ بها
Seseorang wajib mengqadha’ shalat(Fardlu) yang telah terlewat
waktunya ketika ia telah ingat dan memungkinkan untuk melaksanakannya,
keuali jika dikhawatirkan terlewatinya menjalankan shalat ada’ (pada
waktunya), maka ia harus mendahulukan shalat ada’ terlebih dahulu.Hal ini memberi penjelasan tentang wajibnya mengadha’ shalat fardlu bagi orang yang lupa atau sedang tertidur ketika telah ingat karena keduanya tidak terkena taklif(kewajiban) dari syara’, akan tetapi seseorang boleh memilih diantara mendahulukan shalat qadha’ atau shalat ada’ terlebih dahulu, jika memang tidak dikhawatirkan terlewatnya waktu shalat ada’ maka shalat qadha’ boleh didahulukan, akan tetapi jika terdapat kekhawatiran terlewatnya waktu shalat ada’ maka shalat qadha’ harus diakhirkan dan mendhulukan shalat ada’.
Sabtu, September 28, 2013
Kisah Kesabaran Nabi Ismail (Sejarah Hari Idul Adha)
“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.
Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".
Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”
Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).
Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.
Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.
Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.
Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.
“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.
“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.
Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.
“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.
“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.
“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.
“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.
“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.
Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”
“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.
“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.
Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.
Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.
Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).
Semoga bermanfaat salam MAJLIS ATTAQWA
Sabtu, September 28, 2013
Aplikasi java ISLAMI
assalamualaikum wr wb.
ketemu laagi dengan admin yang ganteng ini hehehe @bercanda kali, seiring melesatnya tekhnologi kayak roket hehehehe HP kini udah dapat di isi dengan aplikasi jar/java tentunya mau nambah2 aplikasi yang bermanfaat boleh donk langsung aja gan kitab kuning ala pondok pesantren /gundulan bisa di buka pakek HP
Gak sabar
ckckck
langsung dech
tapi maaf kami MAJLIS MAULID AT-TAQWA hanya. memberikan dalam versi java/jar Beberapa kitab kuning atau kitab gundul dalam format aplikasi java ini, bisa anda sobat unduh dan pasang di Hand Phone.- Qur'an dan terjemah Indonesia
- Qur'an Terjemah Indonesia
- Bulughul Marom (matan dan terjemah kitab thoharoh) kitab Fiqih Populer
- Aplikasi Shahih Al Bukhari
- Matan Ajrumiyah
- Maulid Simtud Duror versi Mobile (Untuk HP Java)
- sohih bukhori jar
- ashlu-as-sunnah-pokok-pokok
- surat-yasin-terjemah-plus
- sarah ibnu aqil.jar
- amrithiy.jar
- metode hafal.jar
- arbain nawawi (indo)
- arbain nawawi (hadist ).jar
- jamiuddurus I (nahwu sorof).jar
- jamiuddurus2 (Nahwu sorof).jar
- asbabunuzul al quran.jar
affwan ingsya allah di tambah lagi dech semoga bermanfaat
salam MAJLIS AT TAQWA
Sabtu, September 28, 2013
Syi'ir NU - HABIB SYECH
SHOLAATULLOH SALAMULLOH '
ALAA THOHA ROSULILLAH
SHOLAATULLOH SALAMULLOH '
ALAA YAASIIN HABIBILLAH
Tahun 26 Lahire NU ...
Ijo ijo Benderane NU ...
Gambar Jagad Simbule NU ...
Bintang songo Lambange NU ...
Suriyah Ulama'e NU ...
Tanfidziyah pelaksana NU ...
GP Anshor pemuda NU ...
Fatayat Pemudi NU ...
Nganggo Usholli Sholate NU ...
Adzan pindo Jum'atane NU ...
Nganggo qunut subuhe NU ...
Dzikir bareng amalane NU ...
Tahlilan hadiahe NU ...
Manaqiban washilahe NU ...
wiridan rutinane NU ...
Maulidan sholawatane NU ...
SHOLAATULLOH SALAMULLOH '
ALAA THOHA ROSULILLAH
SHOLAATULLOH SALAMULLOH '
ALAA YAASIIN HABIBILLAH
DOWNLOAD MP3
ALAA THOHA ROSULILLAH
SHOLAATULLOH SALAMULLOH '
ALAA YAASIIN HABIBILLAH
Tahun 26 Lahire NU ...Ijo ijo Benderane NU ...
Gambar Jagad Simbule NU ...
Bintang songo Lambange NU ...
Suriyah Ulama'e NU ...
Tanfidziyah pelaksana NU ...
GP Anshor pemuda NU ...
Fatayat Pemudi NU ...
Nganggo Usholli Sholate NU ...
Adzan pindo Jum'atane NU ...
Nganggo qunut subuhe NU ...
Dzikir bareng amalane NU ...
Tahlilan hadiahe NU ...
Manaqiban washilahe NU ...
wiridan rutinane NU ...
Maulidan sholawatane NU ...
SHOLAATULLOH SALAMULLOH '
ALAA THOHA ROSULILLAH
SHOLAATULLOH SALAMULLOH '
ALAA YAASIIN HABIBILLAH
DOWNLOAD MP3
Senin, September 23, 2013
الرَاتِب الشَّهِير
Susunan rotibul hadad
Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam
Abdullah
bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal.
Daripada
doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling
terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang
Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27
Ramadhan
1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).
الإمام القطب عبد الله بن علوي الحداد
Al-Imam Al-Qutub
Abdullah bin Alawi Al-Haddad
Ratib
Al-Haddad
Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam
Abdullah
bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal.
Daripada
doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling
terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang
Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27
Ramadhan
1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).
Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau,
‘Amir
dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam,
Hadhramaut.
Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu
wirid dan
zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan
menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut
ketika
itu.
Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, iaitu
di kota
Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah
Al-Haddad
sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di
Al-Hawi,
Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada
kebiasaannya
ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat
Isya’. Pada
bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan
waktu
untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di
kawasan-kawasan di
mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan
tersebut
selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.
Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad
pun
mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan
dibaca
setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah.
Habib Ahmad
bin Zain Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib
Al-Haddad
dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha
illallah”
hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali),
ia
mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.
Beberapa kebezaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad
ini
terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh
pembacanya.
Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk
membaca
Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada
yang
tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan
sesiapa
yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan.
Ameen.
Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di
dalam
ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W.
Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas.
Bilangan
bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan
ganjil (witir).
Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun
zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu
memudahkan
pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah,
adalah
lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara berkala atau cuai. Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad
kerana
ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau
jamaah.
Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.
الراتب الشهير
للحبيب عبد الله بن علوي الحداد
Ratib Al Haddad
Moga-moga Allah
merahmatinya [Rahimahu Allahu Ta’ala]
يقول القارئ:
الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا
وَمَوْلانَا
مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم - الفاتحة-
Bacalah Al-Fatihah kepada ketua, penyshafaat, nabi dan penolong kita
Muhammad
s.a.w
1.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
إِيِّاكَ
نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ.
صِرَاطَ
الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ
الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ
1.
Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian
alam. Yang
Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai hari Pembalasan
(hari
Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada
Engkaulah
sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu
jalan
orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan
(jalan)
orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang
yang
sesat.
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.: “Sukakah kamu jika aku
ajarkan
sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil
mahupun Zabur
dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.
Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi
kepadamu (wahai
Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran
yang amat
besar kemuliaan dan faedahnya.”
2.
اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ
سِنَةٌ وَلاَ
نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ
يَشْفَعُ
عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا
خَلْفَهُمْ
وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ
كُرْسِيُّهُ
السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ
العَظِيْمُ.
2.
Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal
selama-lamanya.
Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di
langit dan
di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan
dengan
izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang
ada di
belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu
Allah
melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit
dan
bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta
memelihara
keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar.
(Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi)
Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith
yang
menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan,
benteng
pertahanan, melapangkan fikiran dan menambahkan iman.
3.
آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ
إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه
وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ لاَ
نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ
غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.
3.
Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari
Tuhannya, dan
juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan
Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan):
“Kami
tidak membezakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain".
Mereka
berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu
wahai Tuhan
kami, dan kepadaMu jualah tempat kembali”
(Surah 2: Al Baqarah Ayat 285)
Diriwayatkan daripada Abu Mas'ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w
pernah
bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada
seseorang yang
membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.
4.
لاََ
يُكَلِّفُ اللهُ
نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
رَبَّنَا
لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ
عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا
رَبَّنَا
وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
4.
Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia
mendapat
pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa
atas
kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): "Wahai
Tuhan kami!
Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami
tersalah. Wahai
Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat
sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu
daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang
kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta
ampunkanlah
dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh
itu,
tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”
(Surah 2: al-Baqarah Ayat 286)
Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.: Apabila
Jibril
sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di
atasnya. Dia
mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di
syurga yang
tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata
lagi, “Ia
malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam
lalu
berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak
pernah
diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat
penghabisan Surah
al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya.
5. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ
الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
(3X)
5.
Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi- Nya.
Bagi-Nya
segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan
dan yang
mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu (3X)
Dari
Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah;
Rasulullah s.a.w
berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya
seperti
memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya
dan
seratus keburukan dibuang darinya, dan menjadi benteng dari gangguan
syaitan
sepanjang hari.”
6.
سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ
اَكْبَرُ.
(3X)
6.
Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan
Allah
Tuhan Yang Maha Besar. (3X)
Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w
bersabda:
Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih,
takbir,
tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau
berzikirullah.
7.
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ.
(3X)
7.
Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci Allah Yang Maha
Agung.
(3X)
Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w.
bersabda: Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan
disukai
oleh Allah ialah: 'SubhanAllah al-Azim dan 'SubhanAllah wa bihamdihi.'”
8.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ
عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
(3X)
8.
Ya Allah ampunlah dosaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau
Maha
Pengampun Lagi Maha Penyayang. (3X)
Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada
Allah;
kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90
9.
اَللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ.
(3X)
9.
Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat
ke
atasnya dan kesejahteraan-Mu.
(3X)
Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya
berselawat ke
atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya
serta
ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.
Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya
sepuluh
kali.
10.
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ
التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ.
(3X)
10.
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan
makhluk-Nya. (3X)
Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang
membaca
doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”
11.
بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ
اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي
الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ.
(3X)
11.
Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi
mahupun di
langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha
Mengetahui. (3X)
Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang
membaca
doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan
akan
dialaminya.”
12.
رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا
وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا.
(3X)
12.
Kami redha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan
Muhammad
sebagai Nabi kami. (3X)
Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai)
di sisi
Allah ialah Islam.
Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa
membaca ayat
ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.”
13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ
بِمَشِيْئَـةِ
اللهِ.
(3X)
13.
Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan
kejahatan
adalah kehendak Allah. (3X)
Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu
Hurairah,
bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia
membawa kamu
ke jalan yang benar. Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan
‘Bismillah’ dan
penutupnya ialah “Alhamdulillah”.
14.
آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ
تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا.
(3X)
14.
Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada
Allah
batin dan zahir. (3X)
Surah at-Tahrim Ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah
kamu kepada
Allah dengan “Taubat Nasuha”.
Diriwayatkan oleh Ibn Majah: Rasulullah bersabda: Orang yang bertaubat
itu
adalah kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat itu ialah seumpama orang
yang
tiada apa-apa dosa.”
15.
يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا
وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا.
(3X)
15.
Ya Tuhan kami, maafkan kami dan hapuskanlah apa-apa (dosa) yang ada pada
kami. (3X)
Dari
Tirmidhi dan Ibn Majah: Rasulullah s.a.w. berada di atas mimbar dan
menangis
lalu beliau bersabda: Mintalah kemaafan dan kesihatan daripada Allah,
sebab
setelah kita yakin, tiada apa lagi yang lebih baik daripada kesihatan
Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan
kepada
Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”
16.
ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ
أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ.
(7X)
16.
Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah
kami
dalam agama Islam . (7X)
Sila rujuk ke
no.
12. Moga-moga kita dimatikan dalam keadaan Islam.
Dan dari Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. menyatakan di dalam sebuah hadith
bahawasanya sesiapa yang berdoa dengan nama-nama Allah dan penuh
keyakinan, doa
itu pasti dikabulkan Allah.
17.
ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ إَكْفِ
شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ. (3X)
17.
Wahai Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari
kejahatan
orang-orang yang zalim. (3X)
Seperti di atas (16); Merujuk hadith Rasulullah s.a.w, sesiapa yang
tidak boleh
mengalahkan musuhnya, dan mengulangi Nama ini dengan niat tidak mahu
dicederakan
akan bebas dari dicederakan musuhnya.
18.
أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ
الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (3X)
18.
Semoga Allah memperbaiki urusan kaum muslimim dan menghindarkan mereka
dari
kejahatan orang-orang yang suka menggangu. (3X)
Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada
seorang mukmin pun yang berdoa untuk kaumnya yang tidak bersamanya,
melainkan
akan didoakan oleh Malaikat, “Sama juga untukmu”.
19. يـَا
عَلِيُّ يـَا كَبِيْرُ يـَا عَلِيْمُ يـَا قَدِيْرُ
يـَا سَمِيعُ يـَا
بَصِيْرُ يـَا لَطِيْفُ يـَا خَبِيْرُ. (3X)
19.
Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, lagi Maha Besar, Yang Maha Mengetahui lagi
Sentiasa
Sanggup, Yang Maha Mendengar lagi Melihat. Yang Maha Lemah-Lembut lagi
Maha
Mengetahui (3X)
Surah 17: Al Israil: Ayat 110: “Katakanlah (wahai Muhammad): "Serulah
nama
“Allah” atau “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan; kerana Allah
mempunyai
banyak nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan
bacaan doa
atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah
sahaja
satu cara yang sederhana antara itu."
20.
ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ
وَيَرْحَمُ.
(3X)
20.
Wahai Tuhan yang melegakan dari dukacita, lagi melapangkan dada dari
rasa
sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba-Nya.
(3X)
Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: “Ketika saya
bersama
Rasulullah s.a.w., ada seseorang berdoa, “Ya Allah saya meminta kerana
segala
pujian ialah untuk-Mu dan tiada Tuhan melainkan-Mu, Kamulah yang Pemberi
Rahmat
dan yang Pengampun, Permulaan Dunia dan Akhirat, Maharaja Teragung, Yang
Hidup
dan Yang Tersendiri”.
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia berdoa kepada Allah menggunakan
sebaik-baik
nama-nama-Nya, Allah akan memakbulkannya kerana apabila diminta dengan
nama-nama-Nya Allah akan memberi.
21.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ
الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ.(4X)
21.
Aku
memohon
keampunan
Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku
memohon
keampunan Allah dari sekalian kesalahan. (4X)
Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon
keampunan
daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha
Mengasihani.”
Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah
keampunan
Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada-Nya.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih”
22.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
(50X)
22.
Tiada Tuhan Melainkan Allah (50X)
Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha
illallah” ini
adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahawa Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masuk ke neraka jikalau dia
mengucapkan kalimah tauhid ini berulang-ulang kali.”
23.
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ
وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا
هَذَا إِلَى
يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
23.
Muhammad Rasulullah, Allah
Mencucurkan Selawat
dan Kesejahteraan keatasnya
dan keluarganya.
Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan
kebesarannya. Serta
Allah Ta'ala meredhai akan sekalian keluarga dan sahabat Rasulullah,
sekalian
tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga
Hari
Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha
Pengasih
daripada yang mengasihani.
24.
بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.
قُلْ هُوَ اللهُ
أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ
يَكُـنْ لَهُ
كُفُـوًا أَحَـدٌ.
(3X)
24.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah
(wahai
Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan
segala
permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak
ada
sesiapapun yang sebanding dengan-Nya. Surah Al-Ikhlas (3X)
Dari
Imam
Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri;
seseorang
mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan
paginya
dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya
sebab
dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w
berkata,
“Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al
Quran!”
Dari Al-Muwatta', diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan
dengan
Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah
al-Ikhlas.
Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya
Rasulallah?”
Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).
25.
بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ
الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ،
وَمِنْ
شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد
25.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah
(wahai
Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh,
daripada
kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam
apabila
ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada
simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki
apabila ia
melakukan kedengkiannya”.
Surah Al-Falaq
Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya
apabila ada
salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya
dengan
membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit
yang
menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap
baginda
dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak
berkatnya daripada tanganku.
26.
بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ
النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ
الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ
وَالنَّاسِ.
26.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah
(wahai
Muhammad): “Aku berlindung
dengan
Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang
berhak
disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang
timbul
tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati
manusia, dari
kalangan jin dan manusia”. Surah An-Nas
Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad
s.a.w
selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad
manusia.
Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan
membaca
ayat-ayat ini sahaja.
27.
اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ
عَلَوِي
وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ
اللهَ
يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ
وَبِأَسْرَارِهِمْ
وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
27.
Bacalah
Al-fatihah
kepada roh Penghulu kita al-Faqih al-Muqaddam, Muhammad ibn Ali
Ba’alawi, dan
kepada asal-usul
dan keturunannya, dan kepada semua penghulu kita dari keluarga bani
‘Alawi, moga-moga
Allah tinggikan darjat
mereka
di
syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, rahsia-rahsia mereka,
cahaya
mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.
28.
اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى أَرْوَاحِ
ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ
وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ - أَنَّ اللهَ يُعْلِي
دَرَجَاتِهِمْ فِي
الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ
وَأَنْوَارِ
هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.
28.
Bacalah
al-fatihah
kepada roh-roh
Penghulu kita Ahli Ahli Sufi, di mana saja roh mereka berada, di timur
atau
barat, moga moga Allah tinggikan
darjat
mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, ilmu-ilmu
mereka,
rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka, dan golongkan kami bersama mereka
dalam
keadaan baik dan afiah.
29.
اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ
الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ
الْحَبِيْبِ
عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ
اللهَ
يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ
وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
29.
Bacalah fatihah kepada roh Penyusun Ratib ini, Qutbil-Irshad,
Penyelamat
kaum dan negaranya, Al-Habib Abdullah ibn Alawi Al-Haddad, asal-usul
dan keturunannya, moga moga Allah meninggikan darjat mereka di syurga,
dan
memberi kita manfaat dari mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya dan
berkat mereka
di
dalam
agama,
dunia dan akhirat.
30.
اَلْفَاتِحَة
إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ
اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ
وَيَرْحَمُهُمْ
وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ
30.
Bacalah Fatihah kepada hamba hamba Allah yang soleh,
ibu bapa kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, moga moga
Allah
mengampuni
mereka dan merahmati mereka dan memberi kita manfaat dengan rahsia
rahsia dan
barakah mereka.
31.
(ويدعو القارئ):
31.
Berdoalah disini apa yang di hajati. :
اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه،
اَللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ
الْمَثَانِيْ
أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ
خَيْر،
وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا
مَوْلاَنَا
مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا
وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ
مِحْنَةٍ
وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر
وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan
sekalian
alam, segala puji pujian bagi-Nya
atas penambahan nikmat-Nya
kepada kami, moga moga Allah
mencucurkan selawat
dan kesehahteraan ke atas Penghulu kami Muhammad,
ahli keluarga dan sahabat-sahabat
baginda. Wahai Tuhan, kami memohon dengan haq (benarnya) surah fatihah
yang
Agung, iaitu tujuh ayat yang selalu di ulang-ulang, bukakan untuk kami
segala
perkara kebaikan dan kurniakanlah kepada kami segala kebaikan,
jadikanlah kami
dari golongan insan yang baik; dan peliharakanlah kami Ya tuhan kami.
sepertimana Kamu memelihara hamba-hambaMu yang baik, lindungilah agama
kami,
diri kami, anak anak kami, sahabat-sahabat kami, serta semua yang kami
sayangi
dari segala kesengsaraan, kesedihan, dan kemudharatan. Sesungguhnya
Engkaulah
Maha Pelindung dari seluruh kebaikan dan Engkaulah yang mengurniakan
seluruh
kebaikan dan memberi kepada sesiapa saja kebaikan dan Engkaulah yang
Maha
Pengasih dan Maha Penyayang. Amin Ya Rabbal Alamin.
32.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ
رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ.
(3X)
32.
Ya Allah, sesungguhnya kami
memohon
keredhaan dan syurga-Mu;
dan kami
memohon
perlindungan-Mu
dari kemarahan-Mu
dan api neraka. (3X)
Dari Tirmidhi dan Nasa’i, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik:
Rasulullah
s.a.w. bersabda, “Jikalau sesiapa memohon kepada Allah untuk syurga tiga
kali,
Syurga akan berkata, “Ya Allah bawalah dia ke dalam syurga;” dan jikalau
ia
memohon perlindungan dari api neraka tiga kali, lalu neraka pun akan
berkata,
“Ya Allah berilah dia perlindungan dari neraka.”
انتهى الراتب الشهير
Tamat Ratib Al-Haddad
“Syarh
Ratib Al-Haddad” – komentari, pembicaraan dan hujah Ratib Al-Haddad
yang
teliti bagi setiap ayat di dalam Ratib Haddad tulisan Al-Habib Alawi
bin
Ahmad bin Hassan bin Abdullah Al-Haddad, dalam bahasa Arab yang
dicetak oleh
Al-Habib Ali bin Essa bin Abdulkader Al-Haddad di Singapura dan di
Maqam
Imam Al-Haddad.
Kamis, September 19, 2013
Langganan:
Komentar (Atom)